• Home
  • Uncategorized
  • Launching Buku TATAH di Museum Nasional, Dorong Seni Ukir Jepara Jadi Warisan yang Terus Hidup  

Launching Buku TATAH di Museum Nasional, Dorong Seni Ukir Jepara Jadi Warisan yang Terus Hidup  

JAKARTA – Launching dan diskusi buku TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir digelar di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada Jumat, 10 Juli 2026. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Pameran TATAH yang menempatkan seni ukir Jepara bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai pengetahuan, sejarah, tradisi, dan identitas budaya yang perlu terus dijaga.

Dalam sambutannya, Direktur TATAH Veronica Rompies menyampaikan bahwa kehadiran buku ini diharapkan dapat membuka jalan bagi penelitian-penelitian baru. Menurutnya, seni ukir Jepara masih memiliki banyak ruang untuk dikaji dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi sejarah, budaya, seni, sosial, maupun kebijakan.

Direktur Tatah Veronica Rompies

Veronica juga berharap Pameran TATAH tidak berhenti hanya pada capaian jumlah pengunjung yang mencapai puluhan ribu orang. Lebih dari itu, rangkaian program TATAH diharapkan dapat mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang berpihak pada keberlangsungan tradisi ukir Jepara.

Menurutnya, tradisi tidak cukup hanya dipamerkan. Tradisi harus terus hidup, dipelajari, didiskusikan, dikaji, dan didokumentasikan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ketika sejarah, tradisi, dan budaya mulai ditinggalkan, kita tidak hanya kehilangan masa lalu. Lebih dari itu, kita akan kehilangan identitas di masa depan,” ujar Veronica dalam sambutannya.

Sementara itu, perwakilan tim riset, Dr. Arif Ahyat, M.A., menyampaikan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan besar dalam memahami Jepara. Menurutnya, Jepara bukan hanya perlu dilihat sebagai daerah yang dikenal dengan seni ukirnya, tetapi juga perlu dipahami sebagai ruang sejarah yang menyimpan memori kolektif masyarakat.

Penulis Buku Tatah Arif Akhyat

Arif menjelaskan, buku ini menjadi upaya untuk membaca kembali perjalanan Jepara, terutama bagaimana capaian-capaian sejarahnya dapat menjadi bahan pembelajaran untuk masa depan. Ia menyebut, sejarah lokal seperti Jepara sering kali belum mendapat ruang yang cukup dalam narasi sejarah nasional.

Menurutnya, sejarah nasional selama ini lebih banyak dibangun dari sudut pandang besar atau makro. Karena itu, kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan untuk melihat bagaimana sejarah nasional juga dapat dikonstruksikan dari perspektif lokal.

“Entitas-entitas lokal sering kali tidak menjadi bagian penting dalam konstruksi sejarah nasional. Buku ini mungkin menjadi salah satu sumbangan bagaimana sejarah nasional Indonesia dapat dilihat dari perspektif lokal,” jelasnya.

Dalam proses penyusunan buku, Arif mengakui terdapat banyak tantangan. Tim riset terdiri dari latar belakang yang berbeda, mulai dari sejarah, seni, hingga penulis lepas. Perbedaan latar belakang tersebut menjadi pengalaman menarik sekaligus tantangan dalam menyatukan tiga tulisan ke dalam satu konstruksi buku yang utuh.

Meski demikian, ia menyampaikan bahwa buku ini merupakan karya maksimal dari para penulis dan periset untuk menghadirkan kembali sejarah Jepara yang selama ini belum banyak terbuka dalam sejarah nasional. Ia juga berharap buku ini dapat menjadi awal untuk memahami Jepara secara lebih luas dan mendalam.

Bupati Jepara H. Witiarso Utomo, S.E. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kebudayaan RI Dr. H. Fadli Zon atas dukungan yang diberikan terhadap Pameran TATAH dan upaya pelestarian seni ukir Jepara. Ia menyebut, dukungan tersebut sangat berarti bagi Pemerintah Kabupaten Jepara, masyarakat Jepara, khususnya para seniman ukir.

Bupati Jepara Witiarso Utomo Sambutan Launching Buku Tatah

Bupati juga menyampaikan bahwa Pameran TATAH telah dikunjungi lebih dari 53 ribu orang. Menurutnya, capaian ini menjadi momentum penting bagi pertumbuhan seni ukir Jepara. Dengan adanya bedah buku ini, ia berharap masyarakat, terutama anak-anak muda Jepara, dapat semakin memahami sejarah dan nilai seni ukir yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Menurut Witiarso, seni ukir Jepara bukan sekadar tradisi lama, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat Jepara. Seni ukir telah menjadi bagian dari napas kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga perlu terus dirawat dan dikembangkan.

Ia juga menyoroti tantangan besar dalam memperkenalkan seni ukir kepada generasi muda. Menurutnya, anak muda hari ini cenderung menyukai sesuatu yang lebih simpel, cepat, dan relevan dengan zaman. Karena itu, seni ukir Jepara perlu dikemas kembali agar dapat masuk ke dunia anak muda tanpa kehilangan akar tradisinya.

Launching Dan Diskusi Buku Tatah Rekontruksi Jepara Melalui Seni Ukir

Bupati memberi contoh perubahan gaya hidup anak muda di Jakarta yang kini mulai bergeser ke pola hidup sehat seperti olahraga dan lari. Ia berharap seni ukir Jepara juga dapat mengalami perubahan cara pandang yang sama, dari sesuatu yang dianggap usang menjadi sesuatu yang baru, menarik, dan membanggakan.

“Leluhur kita menciptakan ukir ini bukan hal yang biasa, tetapi sesuatu yang bisa diwariskan berabad-abad. Tinggal bagaimana kita mengemas supaya seni ukir ini bisa masuk di kalangan anak muda kita ke depan,” ujarnya.

Ia menegaskan, menjaga seni ukir Jepara merupakan pekerjaan rumah bersama. Pemerintah Kabupaten Jepara akan terus mendorong para pengusaha dan seniman untuk berkarya serta mengikuti perkembangan zaman. Hal ini penting agar seni ukir Jepara tidak bergeser dari tradisi yang menjadi identitas daerah.

“Ketika kita bergeser dari tradisi yang ada di tempat kita, maka identitas kita akan hilang dan jati diri bangsa juga akan hilang,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan bahwa Pameran TATAH dan peluncuran buku ini merupakan langkah penting dalam mengangkat seni ukir Jepara. Menurutnya, seni ukir Jepara tidak hanya perlu dilihat sebagai bagian dari ekonomi kreatif, tetapi juga sebagai pencapaian artistik yang tinggi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Sambutan Launching Dan Diskusi Buku Tatah

Fadli Zon menyebut Jepara memiliki sejarah panjang dalam seni ukir. Ia bahkan menyebut Jepara memiliki DNA sebagai daerah pengukir hebat di Nusantara. Salah satu tonggak penting yang disebutnya adalah era Ratu Kalinyamat dan keberadaan Masjid Mantingan, yang menunjukkan adanya akulturasi budaya antara masa sebelum Islam dan masa setelah masuknya Islam.

Menurutnya, karya-karya pengukir Jepara telah dikenal luas hingga mancanegara. Banyak karya ukir Jepara digunakan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Eropa, dan negara-negara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa seni ukir Jepara memiliki potensi besar sebagai bagian dari ekonomi budaya dan industri kreatif.

Launching Dan Diskusi Buku Tatah Di Museum Nasional Indonesia

Namun, Fadli Zon juga mengingatkan adanya tantangan regenerasi. Ia menyampaikan bahwa jumlah anak muda yang tertarik menjadi pengukir kini semakin berkurang. Jika dulu banyak anak-anak di Jepara yang memiliki minat mengukir, kini jumlah tersebut cenderung menurun.

Karena itu, menurutnya, perlu ada upaya perlindungan atau safeguarding terhadap warisan budaya takbenda ini. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui workshop, capacity building, belajar bersama maestro, sekolah ukir, maupun program-program lain yang melibatkan generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alpha.

Fadli Zon menilai hadirnya buku TATAH – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir menjadi bagian penting dalam memperkuat literasi seni ukir Jepara. Buku ini dapat menambah wawasan, menjadi bahan edukasi, serta membuka minat generasi baru terhadap seni ukir.

Tim Tatah 2026 Dalam Launching Dan Diskusi Buku Di Ruang Teater Mni

Ia juga menyebut buku ini sebagai ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara, menjelaskan dinamika perkembangannya, dan menawarkan perspektif baru tentang masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia.

“Saya kira sangat pantas Jepara menjadi Pusat Seni Ukir Dunia,” ujar Fadli Zon.

Selain itu, Fadli Zon juga menyinggung pentingnya upaya agar seni ukir Jepara dapat diakui sebagai warisan budaya takbenda dunia UNESCO. Menurutnya, hal tersebut memerlukan proses panjang, tetapi tetap perlu diperjuangkan melalui mekanisme perlindungan yang tepat.

Ke depan, ia mendorong agar seni ukir Jepara tidak hanya kuat dari sisi keterampilan, tetapi juga terus dikembangkan dari sisi desain, promosi, jejaring, merchandise, souvenir, hingga karya-karya kreatif yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Dengan begitu, seni ukir Jepara dapat semakin terlihat di dunia internasional.

Buku Tatah Museum Nasional Indonesia

Fadli Zon menegaskan bahwa seni ukir Jepara merupakan salah satu ekspresi budaya yang mampu mewakili capaian estetika dan artistik bangsa Indonesia. Melalui kayu, khususnya kayu jati, para pengukir Jepara mampu melahirkan karya yang bernilai seni, budaya, dan identitas.

Peluncuran buku TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir ini diharapkan menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Jepara dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan seni ukirnya kepada generasi muda serta dunia internasional.

Sorotan Rekomendasi