- Home
- Uncategorized
- Launching Buku TATAH, Membuka Ruang Diskusi tentang Jepara dan Seni Ukir
Launching Buku TATAH, Membuka Ruang Diskusi tentang Jepara dan Seni Ukir
JAKARTA – TATAH kembali menghadirkan ruang untuk mengenal Jepara dari sisi yang lebih dekat. Tidak hanya sebagai kota ukir, Jepara juga memiliki cerita panjang tentang sejarah, kebudayaan, pengetahuan dan kehidupan masyarakatnya.
Melalui agenda Launching dan Diskusi Buku “TATAH: Suluk, Sulur dan Jepara – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir”, TATAH ingin mengajak masyarakat melihat seni ukir bukan hanya sebagai karya yang indah, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas Jepara.
Acara ini akan digelar pada Jumat, 10 Juli 2026 pukul 13.00 WIB di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia.
Direktur TATAH, Veronica Rompies, menyampaikan bahwa kehadiran buku ini bukan menjadi akhir dari upaya memahami Jepara. Menurutnya, buku tersebut justru menjadi awal untuk membuka diskusi yang lebih luas tentang seni ukir, sejarah Jepara dan kehidupan para pengukir.

“Buku ini bukan merupakan akhir, tetapi justru untuk membuka diskusi lebih lanjut. Buku ini hanya satu bagian kecil dari upaya untuk memahami Jepara,” ujar Veronica Rompies, Rabu (8/7/2026).
Ia menjelaskan, Jepara tidak bisa dipahami hanya dari satu sisi. Di dalam seni ukir Jepara terdapat sejarah, keterampilan, nilai hidup, tradisi keluarga, kerja tangan dan pengetahuan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, Veronica berharap buku ini dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya percakapan baru. Tidak hanya di ruang seni dan budaya, tetapi juga di ruang penelitian, pendidikan hingga kebijakan.
“Kami berharap buku ini dapat membuka ruang diskusi selanjutnya. Dari diskusi itu, semoga lahir ide-ide yang bisa dikembangkan menjadi penelitian, kebijakan maupun langkah-langkah nyata,” lanjutnya.
Menurut Veronica, seni ukir Jepara tidak cukup hanya dikenalkan sebagai warisan budaya. Lebih dari itu, perlu ada perhatian terhadap para pengukir yang selama ini menjaga dan menghidupkan tradisi tersebut.
Ia menegaskan bahwa pengukir adalah bagian penting dari perjalanan kebudayaan Jepara. Mereka bukan hanya pekerja yang menghasilkan karya, tetapi juga penjaga pengetahuan, penjaga tradisi dan penjaga identitas daerah.
“Harapannya, seni ukir Jepara tidak hanya semakin dikenal, tetapi juga membuat para pengukir sebagai penjaga tradisi ini dapat hidup lebih sejahtera dan lebih bermartabat,” ungkap Veronica.
Dalam diskusi buku ini, hadir para penulis yaitu Dr. Arif Akhyat, M.A., Dr. Akhmad Nizam, M.Sn. dan Susi Ernawati, S.Pd. Buku ini akan dibedah bersama Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, M.A., JJ Rizal dan Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum. Sementara diskusi akan dipandu oleh Sarah Monica, S.Sos., M.Si.
Buku “Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir” menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan TATAH. Buku ini mengajak pembaca memahami Jepara melalui seni ukir, mulai dari sejarah, tradisi, simbol, kehidupan masyarakat hingga hubungan manusia dengan karya yang mereka hasilkan.
Melalui buku ini, TATAH ingin menunjukkan bahwa seni ukir Jepara bukan sekadar benda yang dipajang atau produk yang diperjualbelikan. Di balik setiap ukiran, ada proses panjang, ada nilai, ada cerita keluarga dan ada pengetahuan yang tumbuh bersama masyarakat.
Untuk mengikuti kegiatan ini, peserta dikenakan biaya Rp50.000. Biaya tersebut untuk tiket masuk Museum Nasional Indonesia. Peserta juga bisa mengikuti gallery tour Pameran TATAH bersama kurator dan tim riset, akses masuk ke Ruang Teater untuk mengikuti acara launching dan diskusi buku, dan mendapatkan buku “Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir” serta snack. Masyarakat bisa langsung registrasi disini atau scan barcode di poster.
Peserta tidak hanya datang untuk mengikuti diskusi, tetapi juga mendapatkan pengalaman lengkap untuk mengenal TATAH secara langsung. Peserta dapat melihat pameran, mengikuti tur bersama kurator, mendengarkan diskusi bersama para narasumber dan membawa pulang buku sebagai bahan bacaan lanjutan.
Kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, pencinta seni, komunitas budaya, peneliti dan siapa saja yang ingin mengenal Jepara melalui seni ukir.
Masyarakat yang belum sempat berkunjung juga masih memiliki kesempatan untuk melihat langsung pamerannya. Pameran TATAH di Museum Nasional Indonesia masih dapat dikunjungi hingga 2 Agustus 2026.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya bisa mengikuti diskusi buku, tetapi juga melihat langsung bagaimana seni ukir Jepara dihadirkan dalam ruang pamer. Melalui buku, diskusi dan pameran ini, TATAH ingin mengajak publik membaca Jepara dengan cara yang lebih utuh dan mudah dipahami.
Agenda ini menjadi pengingat bahwa seni ukir Jepara bukan hanya warisan masa lalu. Seni ukir adalah pengetahuan yang masih hidup, dijaga oleh para pengukir dan perlu terus dirawat agar tetap memberi manfaat bagi masyarakat Jepara hari ini dan generasi berikutnya.


