• Home
  • Uncategorized
  • Pameran TATAH Tembus 38.400 Pengunjung, Kunjungan Meningkat Saat Liburan Sekolah

Pameran TATAH Tembus 38.400 Pengunjung, Kunjungan Meningkat Saat Liburan Sekolah

Jakarta — Pameran Seni Ukir TATAH: Suluk – Sulur – Jepara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, terus menarik perhatian masyarakat. Hingga 29 Juni 2026, jumlah kunjungan pameran ini tercatat mencapai 38.400 pengunjung.

Peningkatan jumlah pengunjung tersebut salah satunya dipengaruhi oleh momentum liburan sekolah. Banyak keluarga memanfaatkan masa libur untuk mengajak anak-anak datang ke museum, melihat karya seni ukir Jepara dan mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia.

Aulya Ruwahidah, PIC Gallery Sitter Pameran Seni Ukir TATAH: Suluk – Sulur – Jepara, mengatakan bahwa dalam sepekan terakhir kunjungan mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Pameran Tatah Ramai Saat Liburan Sekolah

Menurut Aulya, sebelum masa liburan sekolah, jumlah pengunjung pada hari kerja biasanya berada di angka ratusan. Sementara pada akhir pekan, kunjungan dapat mencapai sekitar seribuan orang. Namun, saat memasuki masa libur sekolah, jumlah pengunjung meningkat tajam.

“Pada Jumat, 27 Juni 2026, kunjungan mencapai 2.169 orang. Kemudian pada Minggu, 28 Juni 2026, pengunjung mencapai sekitar 2.355 orang,” ujar Aulya.

Ia menjelaskan, selama masa liburan ini komposisi pengunjung juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya pengunjung terdiri dari sekitar 60 persen masyarakat Indonesia dan 40 persen wisatawan luar negeri, saat liburan sekolah jumlah pengunjung dari Indonesia meningkat hingga sekitar 70 persen. Dari jumlah tersebut, menurut Aulya, cukup banyak yang berasal dari kalangan anak sekolah.

“Di masa libur ini hampir 70 persen pengunjung itu dari Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 36 persen mungkin anak sekolah,” jelasnya.

Selain keluarga dan anak sekolah, Pameran TATAH juga banyak dikunjungi masyarakat umum serta wisatawan mancanegara. Banyaknya pengunjung menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk mengetahui lebih dalam pameran seni ukir sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Pameran Tatah 2026

Aulya menyebut, respons pengunjung terhadap pameran ini sangat positif. Banyak pengunjung yang merasa kagum karena melihat bahwa seni ukir Jepara ternyata tidak hanya berkaitan dengan mebel, tetapi juga memiliki sejarah, proses, nilai dan perkembangan visual yang panjang.

“Banyak yang terkagum-kagum dan tidak menyangka bahwa di Jepara perkembangan ukirannya bukan hanya sekadar mebel,” kata Aulya.

Ia juga melihat antusiasme besar dari anak-anak yang datang. Banyak dari mereka bertanya tentang motif, bahan kayu dan proses pembuatan karya. Bagi Aulya, pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi tanda awal ketertarikan generasi muda terhadap seni ukir.

“Anak-anak banyak yang antusias. Ada yang bertanya, ‘Kak, ini motif apa?’ atau ‘Kenapa ini seperti ini?’ Ada juga yang bertanya kenapa memakai kayu jati. Menurut saya, itu awal dari ketertarikan anak-anak. Ada harapan generasi masa depan bisa tertarik pada dunia tatah,” ujarnya.

Di sisi lain, Aulya mengatakan pihak gallery sitter berupaya aktif mendampingi pengunjung. Jika ada pengunjung yang terlihat ingin bertanya atau membutuhkan penjelasan, petugas akan mendekat dan membantu memberikan informasi.

Pengunjung Pameran Tatah

Pameran Seni Ukir TATAH: Suluk – Sulur – Jepara menghadirkan karya, arsip, narasi dan instalasi yang mengajak pengunjung melihat seni ukir Jepara dari sudut yang lebih luas. Tidak hanya sebagai karya yang indah dipandang, tetapi juga sebagai pengetahuan, ingatan budaya dan identitas yang tumbuh bersama masyarakatnya.

Dengan masih berlangsungnya momentum liburan sekolah, jumlah pengunjung pameran ini diprediksi akan terus bertambah. Pameran TATAH dapat dikunjungi di Ruang Temporer A, Museum Nasional Indonesia, Jakarta, hingga 5 Juli 2026.

Sorotan Rekomendasi