Reda dan Terang

Di balik keindahan ukiran, selalu ada tangan, tubuh, dan pengalaman manusia yang bekerja di dalamnya. Reda dan Terang hadir sebagai karya yang tidak hanya berbicara tentang bentuk, tetapi juga tentang pengalaman emosional menjadi perempuan. Karya ini membaca ulang kekuatan, luka, ketahanan, dan harapan perempuan melalui bahasa ukir kayu Jepara.

Reda dan Terang merupakan karya Jaladara Collectiva yang dibuat pada tahun 2026. Karya ini menggunakan material kayu jati kombinasi rotan dengan ukuran 70 x 48 x 175 cm. Dalam bentuk instalasinya, karya ini juga menghadirkan elemen lampion impes yang berkaitan dengan tradisi Baratan Kalinyamatan di Jepara. Perpaduan kayu, rotan, ukiran, dan cahaya menjadikan karya ini sebagai ruang perenungan tentang perempuan, kehidupan, dan harapan.

Gagasan karya ini berangkat dari semangat juang Ratu Kalinyamat, ratu dari Jepara yang dikenal sebagai sosok pemimpin kuat, berkuasa, memiliki rasa keadilan, dan berani mempertahankan tanah Nusantara. Ratu Kalinyamat tidak hanya hadir sebagai figur sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi tentang keberanian perempuan dalam memimpin, bertahan, dan mengambil posisi penting di tengah dinamika zamannya.

Dari inspirasi tersebut, Reda dan Terang membicarakan posisi perempuan yang dalam banyak situasi masih dianggap lemah dan ditempatkan pada lapisan bawah. Perempuan kerap memikul beban peran ganda yang melelahkan. Mereka dituntut menguasai berbagai keterampilan domestik, selalu siap menopang keluarga, menjaga kehidupan rumah tangga, sekaligus sering mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Tekanan sosial semacam ini tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi masih terasa hingga hari ini.

Pengalaman itu juga dekat dengan kehidupan perempuan pengukir. Di balik ketekunan mereka dalam bekerja, terdapat berbagai situasi sulit yang harus dihadapi. Ada luka batin, tekanan hidup, keterbatasan ruang, dan gejolak emosi yang datang silih berganti. Kadang riuh seperti ombak, kadang tenang, tetapi tidak pernah benar benar hilang. Meski demikian, para perempuan pengukir tetap memiliki kebanggaan atas diri mereka dan kecintaan terhadap seni ukir kayu Jepara.

Reda Dan Terang Jaladara Collectiva Pameran Tatah 2026

Kebanggaan itulah yang menjadi salah satu inti karya ini. Perempuan tidak hanya dilihat sebagai pihak yang menanggung beban, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki daya untuk tumbuh, bertahan, dan bangkit. Dalam kehidupan para perempuan pengukir, keterampilan bukan hanya cara bekerja, tetapi juga cara menjaga harga diri, merawat warisan, dan menyatakan keberadaan mereka di tengah ruang sosial yang tidak selalu memberi tempat setara.

Secara visual, gagasan tersebut direpresentasikan melalui bentuk ombak yang dipahat pada kayu. Ombak menjadi lambang dari gejolak batin, perubahan suasana, dan pengalaman hidup yang terus bergerak. Ia dapat hadir sebagai tekanan, tetapi juga sebagai energi. Ombak dalam karya ini tidak dibiarkan berdiri sendiri, melainkan dihubungkan dengan tiang penyangga kayu yang kokoh. Tiang tersebut dapat dibaca sebagai simbol ketahanan, tubuh, dan pusat kekuatan yang menopang keseluruhan karya.

Pada tubuh tiang, ukiran bunga teratai tumbuh memenuhi permukaannya. Teratai menjadi simbol kehidupan, harapan, dan kemampuan untuk tetap tumbuh meskipun berangkat dari ruang yang keruh. Dalam karya ini, teratai tidak hanya tampil sebagai ornamen, tetapi juga sebagai bahasa simbolik tentang perempuan yang terus menjaga kesadaran hidupnya. Sayatan tatah pada ukiran menyerupai luka, menggambarkan perjalanan batin yang penuh tantangan.

Bentuk teratai kemudian ditransformasikan menyerupai organ ovarium. Transformasi ini memberi lapisan makna yang lebih dalam. Ovarium menjadi simbol kehidupan, tubuh perempuan, kesuburan, dan kerinduan akan kehidupan yang terus terjaga. Dari luka dan tekanan, karya ini tidak berhenti pada kesedihan. Ia bergerak menuju kesadaran, harapan, dan cahaya.

Cahaya tersebut diwujudkan melalui lampion impes yang digantung. Impes merupakan lampion kertas yang berkaitan erat dengan tradisi Baratan Kalinyamatan di Jepara. Dalam karya ini, lampion tidak hanya menjadi elemen hias, tetapi menjadi simbol perempuan yang bangkit dan bersinar. Cahaya di dalamnya membawa makna semangat, optimisme, dan doa bagi masa depan perempuan, khususnya perempuan pengukir di Jepara.

Melalui susunan tiang ukir, ombak, teratai, rotan, dan lampion, Reda dan Terang menjadi karya yang menyatukan pengalaman personal dan ingatan kolektif. Ia menyuarakan harapan agar kabar duka bagi perempuan dapat mereda, agar hadir ketenangan, dan agar kehidupan yang layak serta setara dapat dirasakan oleh semua perempuan. Karya ini tidak hanya mengungkapkan luka, tetapi juga memperlihatkan keberanian untuk tetap menyala.

Dalam alur TATAH 2026, Reda dan Terang memperluas pembacaan tentang seni ukir Jepara. Ukiran tidak hanya hadir sebagai keterampilan teknis atau warisan bentuk, tetapi juga sebagai bahasa untuk menyampaikan suara, aspirasi, dan pengalaman perempuan. Melalui karya ini, kayu jati tidak hanya menjadi material yang dipahat, tetapi juga tubuh yang menyimpan luka, daya hidup, dan harapan menuju terang.

Sorotan Rekomendasi