Ngremboko

Ada karya yang berbicara melalui bentuk duduknya, tetapi ada pula yang berbicara melalui tubuh ukirannya. Ngremboko hadir sebagai kursi yang tidak hanya menawarkan fungsi, melainkan juga membawa kita memasuki dunia ornamen Jepara yang penuh lapisan makna. Pada karya ini, kayu jati tidak sekadar dibentuk menjadi perabot, tetapi diolah menjadi ruang tumbuh bagi sulur, bunga, dan simbol yang berakar pada ingatan visual Mantingan.

Karya Ngremboko dibuat oleh Apeep Qimo dan Sutrisno menggunakan material kayu jati dengan ukuran 94 x 84 x 156 cm. Secara visual, karya ini menampilkan bentuk kursi dengan sandaran tinggi yang dipenuhi ukiran tembus. Tubuh kursi terasa seperti dirambati oleh ornamen hidup. Sulur, daun, dan bunga teratai hadir memenuhi bidang sandaran, lengan, hingga bagian bawah kursi. Bentuk kaki yang melengkung memberi kesan anggun, sementara dudukan yang sederhana memberi jeda di tengah kepadatan ukiran.

Teratai menjadi salah satu kunci pembacaan karya ini. Secara umum, teratai dimaknai sebagai simbol pencerahan dan kemurnian. Bunga ini tumbuh dari lingkungan berair, namun mampu mekar dengan indah di permukaan. Dari sifat itulah teratai sering dibaca sebagai lambang hati yang bersih, kehidupan yang naik menuju terang, dan derajat yang tinggi. Dalam tradisi ornamen, bentuk teratai kemudian berkembang menjadi motif lung lungan atau sulur, yaitu bentuk tumbuhan merambat yang menjalar, menyambung, dan terus bertumbuh.

Pada Ngremboko, teratai tidak dihadirkan sebagai bunga tunggal yang berdiri sendiri. Ia muncul melalui jaringan sulur yang memenuhi tubuh kursi. Dari batang, lengkung, daun, dan bunga yang saling terhubung, kita dapat membaca gerak tumbuh yang tidak terputus. Ornamen tersebut seperti membangun napas karya. Ia bergerak dari bawah ke atas, dari satu bidang ke bidang lain, membentuk kesatuan visual yang padat namun tetap mengalir.

Ornamen dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai penghias. Ia menjadi bahasa simbolik yang membawa pesan tentang alam, spiritualitas, dan harapan. Setiap lengkung sulur, setiap susunan bunga, dan setiap ruang kosong di antara ukiran memperlihatkan bahwa keindahan Jepara tidak hanya lahir dari kerumitan, tetapi juga dari kemampuan memberi makna pada detail. Pada titik ini, ukiran tidak berhenti sebagai dekorasi, melainkan menjadi cara untuk menyampaikan doa dan nilai kehidupan.

Nuansa Mantingan terasa kuat dalam karya ini. Kompleks Masjid dan Makam Mantingan selama ini dikenal sebagai salah satu sumber penting dalam pembacaan ornamen Jepara. Di sana, ragam hias tidak hanya memperlihatkan kecakapan teknik, tetapi juga menyimpan jejak pertemuan agama, etnis, budaya, politik, dan kekuasaan. Bentuk bentuk floral, sulur, dan teratai yang tumbuh dalam tradisi Mantingan memperlihatkan bagaimana kreativitas Jepara dibentuk oleh proses akulturasi yang panjang.

Kursi Ukir Ngremboko Dalam Pameran Tatah 2026

Karya ini seolah membawa kembali semangat itu ke dalam bentuk furnitur kontemporer. Kursi tidak lagi hanya menjadi benda pakai, tetapi berubah menjadi medium ekspresi. Sandaran tinggi yang dipenuhi ukiran tembus memberi kesan seperti panel ornamental yang berdiri. Tubuh kursi menjadi tempat bertemunya fungsi dan simbol. Kita masih dapat mengenalinya sebagai kursi, tetapi pada saat yang sama kita juga membacanya sebagai karya ukir yang berdiri dengan bahasa visualnya sendiri.

Kepadatan ornamen pada Ngremboko memperlihatkan kekuatan teknik para pengukir. Ukiran tembus membutuhkan perhitungan yang cermat, karena kayu harus tetap kuat meskipun banyak bagian yang dibuka. Setiap sulur harus saling menopang, setiap bentuk harus terhubung, dan setiap detail harus tetap terbaca. Di sinilah keterampilan tidak hanya tampak sebagai kemampuan memahat, tetapi juga sebagai kecerdasan memahami struktur kayu.

Kayu jati menjadi material yang penting dalam karya ini. Sifatnya yang kuat, seratnya yang khas, dan daya tahannya yang tinggi memberi ruang bagi pengukir untuk menciptakan bentuk yang rumit. Pada Ngremboko, kayu jati tidak ditutup oleh bentuk yang kaku. Sebaliknya, material ini dibuat seolah bergerak, tumbuh, dan bernapas melalui sulur serta bunga yang dipahat di permukaannya.

Karya ini juga memperlihatkan bagaimana ornamen Mantingan dapat terus dibaca dalam konteks masa kini. Motif teratai dan sulur tidak hanya dipindahkan sebagai bentuk lama, tetapi diolah ulang menjadi bahasa baru. Ia tetap membawa akar sejarah, namun hadir dalam wujud yang lebih bebas dan ekspresif. Dengan demikian, tradisi tidak berhenti sebagai warisan yang diam, melainkan terus bergerak melalui tangan para seniman dan pengukir.

Dalam rangkaian TATAH 2026, Ngremboko memperlihatkan bahwa ukiran Jepara memiliki kemampuan untuk melampaui fungsi furnitur. Ia dapat menjadi ruang perenungan tentang alam, doa, kemurnian, dan pertumbuhan. Melalui karya ini, kita melihat bahwa sebuah kursi dapat menyimpan lebih dari sekadar tempat duduk. Ia dapat menjadi tubuh ornamen, tempat sulur menjalar, tempat teratai mekar, dan tempat ingatan Mantingan terus hidup dalam bahasa ukir Jepara.

Sorotan Rekomendasi