- Home
- Uncategorized
- Ngremboko
Ngremboko
Ada karya yang berbicara melalui bentuk duduknya, tetapi ada pula yang berbicara melalui tubuh ukirannya. Ngremboko hadir sebagai kursi yang tidak hanya menawarkan fungsi, melainkan juga membawa kita memasuki dunia ornamen Jepara yang penuh lapisan makna. Pada karya ini, kayu jati tidak sekadar dibentuk menjadi perabot, tetapi diolah menjadi ruang tumbuh bagi sulur, bunga, dan simbol yang berakar pada ingatan visual Mantingan.
Karya Ngremboko dibuat oleh Apeep Qimo dan Sutrisno menggunakan material kayu jati dengan ukuran 94 x 84 x 156 cm. Secara visual, karya ini menampilkan bentuk kursi dengan sandaran tinggi yang dipenuhi ukiran tembus. Tubuh kursi terasa seperti dirambati oleh ornamen hidup. Sulur, daun, dan bunga teratai hadir memenuhi bidang sandaran, lengan, hingga bagian bawah kursi. Bentuk kaki yang melengkung memberi kesan anggun, sementara dudukan yang sederhana memberi jeda di tengah kepadatan ukiran.
Teratai menjadi salah satu kunci pembacaan karya ini. Secara umum, teratai dimaknai sebagai simbol pencerahan dan kemurnian. Bunga ini tumbuh dari lingkungan berair, namun mampu mekar dengan indah di permukaan. Dari sifat itulah teratai sering dibaca sebagai lambang hati yang bersih, kehidupan yang naik menuju terang, dan derajat yang tinggi. Dalam tradisi ornamen, bentuk teratai kemudian berkembang menjadi motif lung lungan atau sulur, yaitu bentuk tumbuhan merambat yang menjalar, menyambung, dan terus bertumbuh.
Pada Ngremboko, teratai tidak dihadirkan sebagai bunga tunggal yang berdiri sendiri. Ia muncul melalui jaringan sulur yang memenuhi tubuh kursi. Dari batang, lengkung, daun, dan bunga yang saling terhubung, kita dapat membaca gerak tumbuh yang tidak terputus. Ornamen tersebut seperti membangun napas karya. Ia bergerak dari bawah ke atas, dari satu bidang ke bidang lain, membentuk kesatuan visual yang padat namun tetap mengalir.
Ornamen dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai penghias. Ia menjadi bahasa simbolik yang membawa pesan tentang alam, spiritualitas, dan harapan. Setiap lengkung sulur, setiap susunan bunga, dan setiap ruang kosong di antara ukiran memperlihatkan bahwa keindahan Jepara tidak hanya lahir dari kerumitan, tetapi juga dari kemampuan memberi makna pada detail. Pada titik ini, ukiran tidak berhenti sebagai dekorasi, melainkan menjadi cara untuk menyampaikan doa dan nilai kehidupan.
Nuansa Mantingan terasa kuat dalam karya ini. Kompleks Masjid dan Makam Mantingan selama ini dikenal sebagai salah satu sumber penting dalam pembacaan ornamen Jepara. Di sana, ragam hias tidak hanya memperlihatkan kecakapan teknik, tetapi juga menyimpan jejak pertemuan agama, etnis, budaya, politik, dan kekuasaan. Bentuk bentuk floral, sulur, dan teratai yang tumbuh dalam tradisi Mantingan memperlihatkan bagaimana kreativitas Jepara dibentuk oleh proses akulturasi yang panjang.

Karya ini seolah membawa kembali semangat itu ke dalam bentuk furnitur kontemporer. Kursi tidak lagi hanya menjadi benda pakai, tetapi berubah menjadi medium ekspresi. Sandaran tinggi yang dipenuhi ukiran tembus memberi kesan seperti panel ornamental yang berdiri. Tubuh kursi menjadi tempat bertemunya fungsi dan simbol. Kita masih dapat mengenalinya sebagai kursi, tetapi pada saat yang sama kita juga membacanya sebagai karya ukir yang berdiri dengan bahasa visualnya sendiri.
Kepadatan ornamen pada Ngremboko memperlihatkan kekuatan teknik para pengukir. Ukiran tembus membutuhkan perhitungan yang cermat, karena kayu harus tetap kuat meskipun banyak bagian yang dibuka. Setiap sulur harus saling menopang, setiap bentuk harus terhubung, dan setiap detail harus tetap terbaca. Di sinilah keterampilan tidak hanya tampak sebagai kemampuan memahat, tetapi juga sebagai kecerdasan memahami struktur kayu.
Kayu jati menjadi material yang penting dalam karya ini. Sifatnya yang kuat, seratnya yang khas, dan daya tahannya yang tinggi memberi ruang bagi pengukir untuk menciptakan bentuk yang rumit. Pada Ngremboko, kayu jati tidak ditutup oleh bentuk yang kaku. Sebaliknya, material ini dibuat seolah bergerak, tumbuh, dan bernapas melalui sulur serta bunga yang dipahat di permukaannya.
Karya ini juga memperlihatkan bagaimana ornamen Mantingan dapat terus dibaca dalam konteks masa kini. Motif teratai dan sulur tidak hanya dipindahkan sebagai bentuk lama, tetapi diolah ulang menjadi bahasa baru. Ia tetap membawa akar sejarah, namun hadir dalam wujud yang lebih bebas dan ekspresif. Dengan demikian, tradisi tidak berhenti sebagai warisan yang diam, melainkan terus bergerak melalui tangan para seniman dan pengukir.
Dalam rangkaian TATAH 2026, Ngremboko memperlihatkan bahwa ukiran Jepara memiliki kemampuan untuk melampaui fungsi furnitur. Ia dapat menjadi ruang perenungan tentang alam, doa, kemurnian, dan pertumbuhan. Melalui karya ini, kita melihat bahwa sebuah kursi dapat menyimpan lebih dari sekadar tempat duduk. Ia dapat menjadi tubuh ornamen, tempat sulur menjalar, tempat teratai mekar, dan tempat ingatan Mantingan terus hidup dalam bahasa ukir Jepara.
Ngremboko
Some works speak through the way they invite the body to sit, while others speak through the body of their carving. Ngremboko appears as a chair that offers not only function, but also a way into the layered ornamental world of Jepara. In this work, teak wood is not merely shaped into furniture; it is transformed into a growing space for tendrils, flowers, and symbols rooted in the visual memory of Mantingan.
Ngremboko was created by Apeep Qimo and Sutrisno using teak wood and measures 94 x 84 x 156 cm. Visually, the work presents a chair with a high back filled with openwork carving. The body of the chair feels as though it is being climbed by living ornament. Tendrils, leaves, and lotus flowers fill the backrest, arms, and lower parts of the chair. The curved legs create an elegant impression, while the simple seat offers a pause amid the density of the carving.
The lotus is one of the key elements in reading this work. In general, the lotus is understood as a symbol of enlightenment and purity. The flower grows from watery surroundings, yet blooms beautifully on the surface. Because of this quality, it is often read as a symbol of a pure heart, of life rising toward light, and of a higher degree of being. In ornamental tradition, the lotus form then developed into lung-lungan or tendril motifs, plant forms that creep, connect, and keep growing.
In Ngremboko, the lotus does not appear as a single flower standing alone. It emerges through a network of tendrils that fill the body of the chair. From interlinked stems, curves, leaves, and flowers, we can read a continuous movement of growth. The ornament seems to build the breath of the work. It moves from bottom to top, from one surface to another, forming a visual whole that is dense yet flowing.
The ornament in this work does not function only as decoration. It becomes a symbolic language carrying messages about nature, spirituality, and hope. Every curve of the tendril, every arrangement of flowers, and every empty space between the carvings shows that Jepara’s beauty is born not only from complexity, but also from the ability to give meaning to detail. At this point, carving does not stop as decoration; it becomes a way to convey prayer and life values.
The atmosphere of Mantingan is strongly felt in this work. The Mantingan Mosque and Tomb complex has long been known as one of the key sources for reading Jepara ornament. There, decorative forms do not only display technical skill; they also preserve traces of encounters among religion, ethnicity, culture, politics, and power. The floral forms, tendrils, and lotus motifs that developed in the Mantingan tradition show how Jepara’s creativity was shaped by a long process of acculturation.
This work seems to bring that spirit back into the form of contemporary furniture. The chair is no longer simply a usable object; it becomes a medium of expression. The high backrest filled with openwork carving gives the impression of a standing ornamental panel. The body of the chair becomes a meeting place between function and symbol. We can still recognize it as a chair, but at the same time we read it as a carved work standing in its own visual language.
The density of ornament in Ngremboko shows the technical strength of the carvers. Openwork carving requires careful calculation, because the wood must remain strong even when many parts are cut through. Each tendril must support the others, every form must remain connected, and every detail must remain readable. Here, skill appears not only as the ability to carve, but also as an intelligence in understanding the structure of wood.
Teak wood is an important material in this work. Its strength, distinctive grain, and durability give the carver room to create complex forms. In Ngremboko, teak wood is not enclosed in a rigid shape. Instead, the material is made to seem as if it moves, grows, and breathes through the tendrils and flowers carved into its surface.
The work also shows how Mantingan ornament can continue to be read in a contemporary context. Lotus and tendril motifs are not simply transferred as old forms, but reworked into a new language. They still carry historical roots, yet appear in a freer and more expressive form. In this way, tradition does not remain a silent inheritance; it continues to move through the hands of artists and carvers.
Within TATAH 2026, Ngremboko shows that Jepara carving has the ability to move beyond furniture function. It can become a space for reflection on nature, prayer, purity, and growth. Through this work, we see that a chair can hold more than a place to sit. It can become a body of ornament, a place where tendrils spread, where lotus flowers bloom, and where the memory of Mantingan continues to live in the language of Jepara carving.


