- Home
- Uncategorized
- Totem
Totem
Di tangan seorang pengukir, kayu tidak hanya menjadi material yang dibentuk, tetapi juga ruang untuk menyimpan gagasan, pengalaman, dan nilai kehidupan. Karya Totem dari almarhum Soekarno memperlihatkan hal itu dengan kuat. Melalui bentuk vertikal yang menjulang, susunan bidang yang ritmis, serta komposisi yang berbeda pada setiap sisinya, karya ini menghadirkan bahasa ukir yang tidak berhenti pada keindahan visual, tetapi juga membawa pesan tentang kehidupan masyarakat, tradisi lokal, dan kedalaman proses berkarya.
Totem merupakan karya almarhum Soekarno dengan material kayu. Karya ini terdiri dari tiga bagian dengan dimensi berbeda. Totem 1 berukuran 35,5 x 35,5 x 185 cm, Totem 2 berukuran 35,5 x 35,5 x 188 cm, dan Totem 3 berukuran 35 x 35 x 205 cm. Karya ini turut ditampilkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April sampai 5 Juli 2026.
Sosok Soekarno bukan hanya dikenal sebagai pengukir dan pembuat patung. Ia juga merupakan seorang pendidik yang memiliki latar belakang sebagai guru dekorasi ukir. Perannya sebagai guru membuat proses berkarya baginya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan tangan, tetapi juga dengan cara menanamkan nilai. Kesabaran, ketelatenan, konsistensi, dan kejujuran dalam berkarya menjadi bagian penting dari sikap kreatif yang ia wariskan.
Soekarno selalu menekankan pentingnya orisinalitas dalam setiap karya. Bagi seorang seniman ukir, orisinalitas bukan sekadar membuat bentuk yang berbeda, tetapi juga keberanian menghadirkan karakter pribadi di dalam karya. Karena itu, karya karyanya memiliki bahasa visual yang khas. Ia tidak hanya mengikuti bentuk yang sudah ada, tetapi mengembangkan gagasan melalui pengamatan, pengalaman, dan kepekaan terhadap kehidupan di sekitarnya.
Salah satu pendekatan penting dalam proses Soekarno adalah menggambar langsung pada bidang ukir. Cara ini menunjukkan kedekatan antara gagasan dan material. Kayu tidak diperlakukan sebagai permukaan pasif, melainkan sebagai ruang dialog. Ketika garis digoreskan langsung pada kayu, bentuk mulai tumbuh mengikuti karakter bidang, serat, dan imajinasi seniman. Dari proses tersebut, setiap karya dapat memiliki karakter yang berbeda satu sama lain.
Pada tahap akhir pengerjaan, Soekarno memilih menyusun pahatan terlebih dahulu, kemudian mengamplas permukaan hingga lebih halus dan rapi. Tahapan ini memperlihatkan perhatiannya pada detail dan penyelesaian. Finishing bukan hanya pekerjaan penutup, tetapi bagian dari proses penyempurnaan karakter karya. Dari penghalusan permukaan, ritme pahatan menjadi lebih terbaca, bentuk terasa lebih utuh, dan keseluruhan karya memperoleh kualitas akhir yang matang.
Secara visual, Totem menampilkan susunan bentuk yang menjulang ke atas. Setiap bagian berdiri di atas dasar kayu yang kokoh, lalu bergerak vertikal dengan elemen yang saling bertaut. Ada bidang melengkung, garis diagonal, susunan seperti tangga, bentuk menyerupai roda atau matahari kecil, serta ukiran yang memberi irama pada tubuh karya. Perpaduan ini membuat karya terasa seperti struktur simbolik yang menyimpan banyak kemungkinan pembacaan.
Karya ini mengangkat tema kehidupan masyarakat dan tradisi lokal. Setiap bentuk dapat dibaca sebagai tanda dari dinamika hidup, hubungan sosial, serta pengalaman manusia dalam ruang kebudayaan. Totem tidak hanya berdiri sebagai patung, tetapi sebagai penanda. Ia seperti tonggak yang merekam nilai, ingatan, dan pandangan hidup masyarakat yang melahirkannya.
Kekuatan karya ini terletak pada keberagaman sudut pandang yang ditawarkan. Setiap sisi dapat menghadirkan kesan berbeda. Ketika dilihat dari satu arah, kita mungkin menangkap susunan geometris yang tegas. Dari sisi lain, muncul gerak lengkung yang lebih lembut. Perubahan sudut pandang ini membuat karya terasa hidup, seolah mengajak kita berkeliling dan membaca lapisannya secara perlahan.

Filosofi dan makna selalu menjadi bagian penting dalam karya Soekarno. Ia tidak membuat ukiran hanya sebagai bentuk indah, tetapi sebagai wadah nilai. Dalam Totem, nilai itu hadir melalui kesungguhan proses, keteraturan bentuk, dan keberanian menciptakan karakter visual yang tidak seragam. Karya ini memperlihatkan bahwa tradisi ukir Jepara dapat bergerak menuju bentuk patung yang lebih bebas tanpa kehilangan akar keterampilan dan kedalaman maknanya.
Ketelatenan Soekarno menjadi napas utama karya ini. Setiap tahap dijalani dengan kehati hatian, dari gagasan, penggambaran, pemahatan, penyusunan bentuk, hingga penghalusan akhir. Ia menunjukkan bahwa seni ukir bukan pekerjaan yang hanya mengejar hasil, melainkan laku panjang yang membutuhkan kesetiaan pada proses. Di dalam proses itulah nilai seorang pengukir terbentuk.
Kehadiran Totem dalam TATAH 2026 menjadi penghormatan terhadap sosok Soekarno sebagai seniman, pendidik, dan penjaga nilai dalam seni ukir Jepara. Karya ini memperlihatkan bagaimana kayu dapat berubah menjadi tanda kebudayaan yang kuat. Melalui bentuk vertikal yang menjulang, Totem seolah menyampaikan bahwa warisan tidak hanya diwariskan melalui benda, tetapi juga melalui sikap, ketekunan, dan nilai hidup yang terus ditanamkan kepada generasi berikutnya.


